Selasa, 30 April 2013

Jeans levis dan wrangler

Assalamualaikum Agan/Aganwati,
Perkenalkan kami dari Dikykokiko_Gallery
kami menjual berbagai macam Jeans Levis 505 n Wrangler dengan harga yang bersaing
dan tentunya dengan kualitas barang yang TOP.
melayani pembelian baik dalam maupun luar kota

ini adalah beberapa contoh gambar dari produk kami:





STOK WARNA : HITAM,BIRU DONGKER,BIRU
SIZE 28-32 IDR 120.000
SIZE 33-35 IDR 130.000 













STOK WARNA : HITAM,BIRU DONGKER,BIRU
SIZE 28-32 IDR 120.000
                               SIZE 33-35 IDR 130.000   








Senin, 29 April 2013

Jaket ADIDAS

Assalamualaikum Agan/Aganwati,
Perkenalkan kami dari Dikykokiko_Gallery
kami menjual berbagai macam jaket ADIDAS dengan harga yang bersaing
dan tentunya dengan kualitas barang yang TOP.
melayani pembelian baik dalam maupun luar kota

uuntuk size :
ADIDAS FIREBIRD : (S),(ALLSIZE FIT M.L),(XL)
ADIDAS VESPA : ALLSIZE
ADIDAS TORSO : ALLSIZE
ADIDAS PARASUT : ALLSIZE
NIKE WINDBREAKER : ALLSIZE
NIKE WINDRUNNER : ALLSIZE



Harga :
Semua rata harga 130rb kecuali nike windbreaker untuk pembelian banyak harga bisa nego gan hubungi aja ane


keuntungan yang kami tawarkan:
[*] Bahan Jaket Oke punya (Polyster diadora,Parasut).
[*] Berbagai Warna komplit yang Anda Bisa Pilih.
[*] Aman , NO TIPU-TIPU.


ini adalah beberapa contoh gambar dari produk kami:






















gambar lain bisa dilihat di http://www.facebook.com/cycha.tytha/photos_albums

Perkembangan Denim Jeans di Indonesia

Perkembangan jeans tampak dari beragam inovasi yang disajikan oleh para perancang bereputasi internasional, yang memungkinkan jeans mulai menapak di atas catwalk. Selebriti bereputasi internasinal pun punya peran besar dalam mempopulerkan jeans ke seluruh dunia.
Para perancang Indonesia juga tidak imun dengan perkembangan ini. Mereka menggunakan denim di dalam rancangan mereka. Mulai dari duet Era Soekamto dan Ichwan untuk label mereka Urban Crew yang ditujukan bagi mereka yang muda usia, sampai Ronald Very Gaghana. Carmanita pun memakai denim dalam rancangan tahun 2002-nya, sementara rumah mode Christian Dior sudah beberapa kali mengeluarkan denim untuk label siap pakai.
Ronald V Gaghana menawarkan cara penggunaan denim yang berbeda. Dia memadukannya dengan gaya romantis. Jaket denim berwarna coklat pasir itu dikoyak-koyak, tetapi dipadukan dengan rok sutera sifon yang lembut. Lalu masih dilunakkan lagi dengan penggunaan kalung mutiara yang memberi kesan mewah dan anggun. Itulah gaya eklektik yang menurut para pemikir postmodernisme menjadi salah satu ciri masyarakat pada era kapitalisme lanjut ini.
Dalam dunia nyata, di sini denim juga kembali ikut naik daun. Variasi model sangat beragam, mulai dari warna yang beragam, bergaya klasik, yang berpayet, hingga yang dibuat warnanya pudar sebagian dengan kontras yang tajam. Modelnya pun terus berganti-baggy, melebar di ujung pipa bawah, ketat membalut kaki, sebagai celana panjang, celana tiga perempat, hingga hotpants. Yang sekarang sedang digemari adalah hipster, celana denim yang dikenakan di pinggul. Apa pun variasi yang dilakukan, namun denim dalam warna biru indigo selalu diasosiasikan sebagai pakaian kasual.
Bukan hanya penampilan, kenyamanan mengenakannya pun bertambah dengan ditemukannya serat Lycra. Harga pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 120.000 per celana, sementara celana jins dari perancang internasional di toko resmi harganya mulai dari 200 dollar AS. Dengan kata lain, denim sebagai produk generik bisa disebut sebagai pakaian yang paling egaliter karena semua orang mau memakai dan bisa memakai. Namun, ketika di dalamnya sudah masuk campur tangan para perancang, maka diferensiasi harga dan status pun terjadi. Itulah kekuatan sebuah citra produk. Dia akan mengontrol penontonnya mengikuti aturan-aturan yang dia tentukan.
Di era zaman sekarang model – model seperti inilah yg sedang digemari oleh kaula muda dan juga seri digunakan oleh Anak – anak Band ternama di Indonesia. Perkembangan denim di Indonesia diibaratkan jamur, cepat sekali. Begitu banyak brand-brand lokal yang tumbuh dan bersaing di pasar denim lokal. Beberapa di antaranya ada yang tembus sampai ke internasional, tapi ada juga juga yang stagnan sampai di situ saja.
Mendengar kata – kata denim, mungkin sudah sangat akrab ditelinga kita. Membahas fenomena denim ini terutama di kalangan anak muda. Awal mulanya fenomena ini timbul, lagi dan lagi dari budaya barat. Nudie Jeans, yak yang seperti kita tahu hampir semua anak muda punya denim berlabel ini. Terbukti jika kita jalan ke daerah mana pun banyak cewek atau cowok yang memakai Nudie, brand ini memang punya ciri khas tersendiri dengan logonya yang menjadi identitas brand. Beberapa saat nulai booming Nudie, maka bangkitlah kepalsuan dari brand tersebut, jeans yang dibandrol jutaan rupiah ini memiliki barang KW atau palsu seharga Rp. 150-350 ribu.
Seiring perkembangan zaman, industri kreatif Indonesia pun mampu berkreatifitas. Munculah brand lokal asal Bandung, Peter Says Denim. Brand milik anak muda Bandung ini sampai sekarang memiliki pasar yang cukup bergengsi. Strategi dari penjualan hingga endorsement pun berjalan sangat baik. PSD pun menjadi brand idaman di beberapa negara,betapa membanggakan bagi Indonesia dengan kehadiran brand yang telah meng-endorse puluhan band luar dan dalam negeri ini.
Industri kreatif yang digerakkan anak muda pun jeli melihat peluang. Pada akhirnya banyak bermunculan brand yang mebgikuti jejak dari PSD tersebut seperti, HYS, KickDenim, FiveDenim, Dansbrain dan masih banyak lagi.
Semoga industri kreatif Indonesia makin maju dan mempunyai ruang di negara lain.

Sabtu, 27 April 2013

Tahu Gak Kenapa Di Celana Jeans Ada Kantong Kecilnya?


Kabar Berita – Jeans pertama kali dibuat di Genoa, Italia tahun 1560-an. Jeans biasa dipakai oleh angkatan laut. Celana yang biasa disebut orang Perancis dengan “bleu de GĂ©nes“, yang berarti biru Genoa ini, meski pertama kali diproduksi dan dipakai di Eropa, tetapi sebagai fashion, jeans dipopulerkan di AS oleh Levi Strauss, pria yang mencoba mencari nasib baik ke San Francisco sebagai pedagang pakaian. Ketika itu, AS sedang dilanda demam emas.
Akan tetapi, sampai di California semua barangnya habis terjual, kecuali sebuah tenda yang terbuat dari kain kanvas. Kain ini dipotongnya dan dibuatnya menjadi beberapa celana dan dijual kepada para pekerja tambang emas. Ternyata mereka menyukainya karena tahan lama dan tak mudah koyak. Kemudian Strauss menyempurnakan jeansnya dengan memesan bahan dari Genoa yang disebut “Genes”, yang oleh Strauss diubah menjadi “Blue Jeans“.
Akhirnya karena para penambang sangat menyukai jeans buatannya ini, mereka menobatkan celana ini sebagai celana resmi mereka. Para penambang emas itu menyebut celana Strauss dengan sebutan “those pants of Levi`s” atau “Celana Si Levi”. Sebutan inilah yang mengawali merek dagang pertama celana jeans pertama di dunia.
Naluri bisnis Strauss yang tajam membuatnya mengajak pengusaha sukses Jakob Davis untuk bekerja sama, dan pada tahun 1880 kerja sama itu melahirkan pabrik celana jeans pertama. Dan produk desain mereka yang pertama adalah “Levi’s 501“.
Alasannya:
Produk desain pertama memang dikhususkan bagi para penambang emas. Celana ini memiliki 5 saku, 2 di belakang dan 2 di depan, dan 1 saku kecil dalam saku depan sebelah kanan.
Karena diperuntukkan bagi para penambang, saku ini tentu bukan untuk bergaya-ria. Tetapi saku imut-imut ini dirancang untuk menyimpan butiran-butiran emas yang berukuran kecil. Meski kini jeans diproduksi dalam berbagai merek dan bukan hanya untuk para penambang, tetapi saku imut-imut itu masih tetap ada. Tentu saja sekarang fungsinya sekarang tidak lagi digunakan sebagai tempat menyimpan butiran emas.
Sumber : beritaunik.net

Jumat, 26 April 2013

Adidas luncurkan kaos untuk dukung korban bom Boston

Adidas adalah sponsor resmi Boston Marathon. Untuk itu, demi menghormati dan mendukung para korban pengeboman di Boston marathon, Adidas meluncurkan kaos khusus bertuliskan "Boston Stands As One."
Kaos edisi terbatas ini tersedia dalam warna abu-abu dan biru untuk pria dan wanita dan bisa dibeli melalui adidas.com. Semua keuntungan yang didapat dari penjualan kaos seharga USD 26.20 (atau sekitar Rp. 254.000) akan disumbangkan pada badan amal One Fund Boston, seperti dilansir oleh NY Daily News (19/04).
Cara lain untuk menunjukkan dukungan dan menghormati korban Boston adalah dengan berlari. Pada Senin mendatang, pelari di seluruh Amerika Serikat akan menghormati korban pengeboman Boston dengan cara terbaik yang mereka bisa, yaitu berlari.
Acara bertajuk #BostonStrong ini direncanakan oleh Brian Kelley, pelari San Fransisco yang juga merupakan penulis blog Pavement Runner.
[kun]

Kamis, 25 April 2013

Asal Usul Sejarah Adidas

Sejarah merk sepatu yang sangat terkenal ini dimulai pada tahun 1920 oleh Adi (Adolf) Dassler di ruang cuci milik Ibunya. Waktu itu Adi Dassler membuat proyek kecil-kecilan dengan membuat sepatu olahraga. Karena tingginya kualitas sepatu yang dihasilkannya, akhirnya bisnis kecil-kecilan tersebut mulai membuahkan hasil. Pada tahun 1924, Adi Dassler dan saudaranya Rudolf Dassler mendirikan “Dassler Brothers OGH” yang nantinya menjadi cikal bakal Adidas sekarang.
Komitmen Adi Dassler pada kualitas, membawa Dassler Brothers sebagai produsen sepatu berkualitas tinggi, sehingga sering dipakai oleh atlit-atlit legendaris masa itu untuk Olimpiade. Puncak keterkenalan sepatu Dassler Brothers adalah ketika Jesse Owen menjadi atlit paling sukses pada Olimpiade Berlin pada tahun 1936 dengan mengenakan sepatu buatan Dassler.

Pada tahun 1948, Adi dan Rudolf memutuskan untuk berpisah dan masing-masing membuat merk sepatu sendiri. Rudolf membuat merk sepatu ‘Puma’ sedangkan Adi membuat merk ‘Adidas.’ Pengambilan nama Adidas berasal dari nama Adi Dassler dengan menggabungkan nama depan Adi dan satu suku kata nama belakang Dassler yakni ‘das’ sehingga menjadi kata ‘Adidas’. Sekadar informasi bahwa nama asli dari Adi Dassler adalah Adolf Dassler, tapi orang Jerman sering memanggil nama Adolf sebagai Adi. Didukung oleh kemajuan bidang penyiaran dan pertelevisian, adidas menikmati keuntungan dari event olahraga seperti Olimpiade atau sepakbola, karena logo 3 stripes mereka mudah dikenali dari jauh. Ia pun mendafarkan logo 3 stripes sebagai trademark dari adidas. 3 stripes yang diciptakan agar kaki stabil, namun akhirnya menjadi logo.
Evolusi Logo Adidas

Penggunaan logo Adidas sendiri baru dipergunakan pada sekitar tahun 1948, pada saat dua bersaudara Dassler tersebut berpisah. Secara visual, logo Adidas hanya berupa huruf Adidas, dengan nama Adolf Dassler diatasnya serta ilustrasi sepatu ditengahnya. Dengan merk ini, sepatu buatan Adi Dassler mencapai titik kesuksesannya, dengan diakuinya merk sepatu Adidas diajang pesta olahraga dunia seperti Olimpiade Helsinki, Melbourne, Roma dan lainnya. Serta saat itu tim sepakbola Jerman menjadi juara dunia sepakbola dengan menggunakan sepatu Adidas.
Pada tahun 1972, logo Adidas mengalami perubahan yakni dengan menggunakan konsep ‘Trefoil Logo’, yaitu logo dengan visual tiga daun terangkai. Konsep tiga daun ini memiliki makna simbolisasi dari semangat Olimpiade yang menghubungkan pada 3 benua. Sejak saat itulah Adidas menjadi sepatu resmi yang dipergunakan pada even Olimpiade diseluruh dunia.
Akhirnya setelah bertahun-tahun berjaya dan mengalami liku-liku perkembangan usaha, pada tahun 1996, Adidas mengalami modernisasi dengan menerapkan konsep ‘We knew then – we know now’ yang kurang lebih menggambarkan kesuksesan masa lalu dan kejayaan hingga kini. Adapun logo baru yang digunakan secara visual berupa tiga balok miring yang membentuk tanjakan yang menggambarkan kekuatan, daya tahan serta masa depan. Sejak saat itu logo Adidas tidak pernah mengalami perubahan, serta masih berjaya hingga saat ini.